News Malinau — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau menegaskan komitmennya untuk mempercepat penurunan angka stunting. Tahun 2025 ini, sebanyak 9 desa di wilayah Malinau masuk dalam daftar prioritas intervensi penanganan stunting sesuai arahan pemerintah pusat.

Penetapan desa prioritas ini dilakukan berdasarkan data prevalensi stunting, angka gizi buruk, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. “Kami fokus pada wilayah yang memang membutuhkan perhatian lebih agar target nasional penurunan stunting dapat tercapai,” kata Kepala Dinas Kesehatan Malinau.
Baca Juga : Menjaga Benteng Satwa Perbatasan, Kisah Patroli Ekstrem Rimbawan Kayan Mentarang
Program Intervensi Terpadu
Intervensi penanganan stunting di 9 desa tersebut mencakup berbagai program, mulai dari peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, pemberian makanan tambahan bergizi, perbaikan sanitasi, hingga edukasi gizi bagi keluarga.
Pemerintah daerah juga melibatkan lintas sektor, seperti Dinas Pertanian, Dinas Pendidikan, hingga organisasi masyarakat. Kolaborasi ini bertujuan agar penanganan stunting tidak hanya berhenti pada aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh faktor pendukung lain yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Dukungan Pemerintah Pusat dan Desa
Pemkab Malinau menegaskan bahwa program ini selaras dengan instruksi Presiden terkait percepatan penurunan stunting menuju target 14 persen pada 2024–2025. Kepala desa di wilayah prioritas pun menyatakan kesiapan mereka dalam mendukung program, baik melalui alokasi dana desa maupun pemberdayaan kader posyandu.
“Kami siap membantu program pemerintah. Dana desa bisa diarahkan untuk mendukung perbaikan gizi dan fasilitas kesehatan masyarakat,” ujar salah satu kepala desa di Kecamatan Malinau Kota.
Harapan Warga dan Masyarakat Lokal
Masyarakat menyambut positif langkah pemerintah ini. Warga berharap program intervensi tidak hanya berlangsung sementara, melainkan terus berkelanjutan. “Kami ingin anak-anak tumbuh sehat dan tidak lagi ada masalah gizi buruk,” ungkap Ratna, seorang ibu rumah tangga di Desa Tanjung Lapang.
Selain itu, edukasi gizi yang diberikan kepada keluarga diharapkan mampu mengubah pola konsumsi menjadi lebih sehat dan berimbang. Meskipun dengan sumber daya lokal yang sederhana.
Penutup
Dengan ditetapkannya 9 desa di Malinau sebagai prioritas intervensi stunting tahun 2025. Diharapkan angka stunting di wilayah Kalimantan Utara dapat menurun signifikan. Program ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah bersama masyarakat bergerak bersama untuk mencetak generasi Malinau yang lebih sehat, cerdas. Dan berkualitas di masa depan.







