, ,

Nelayan Tradisional Malinau Lestarikan Keterampilan Merajut Jala di Tengah Modernisasi

by -322 Views

News Malinau  – Di tengah perkembangan teknologi alat tangkap modern, nelayan tradisional di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, tetap mempertahankan kearifan lokal berupa keterampilan merajut jala secara manual. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian penting dari kehidupan mereka, tetapi juga menjadi identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

KNTI Malinau Gelar Lomba Merangkai Jala dan Pukat untuk Lestarikan Tradisi  Nelayan Lokal - Teraskaltara.id
Nelayan Tradisional Malinau Lestarikan Keterampilan Merajut Jala di Tengah Modernisasi

Di Desa Malinau Kota, setiap pagi sebelum turun ke sungai atau danau, para nelayan tampak duduk di teras rumah atau di pinggir dermaga sambil memperbaiki jala yang akan digunakan. Proses merajut dilakukan dengan telaten menggunakan benang nilon dan alat sederhana berupa jarum rajut khusus.

Baca Juga : Terduga Pelaku Pencurian Didominasi Residivis, Kajari Nunukan Dorong Restorative Justice

Merajut jala itu butuh kesabaran. Kalau tidak teliti, hasilnya mudah sobek dan tidak kuat menahan tangkapan,” ujar Haryanto (54), seorang nelayan yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari perairan Malinau.

Fungsi Jala dalam Kehidupan Nelayan

Jala hasil rajutan tangan menjadi alat utama bagi banyak nelayan tradisional di Malinau. Selain digunakan untuk menangkap ikan sungai seperti baung, toman, dan seluang, jala juga dianggap lebih ramah lingkungan dibanding sebagian alat tangkap modern.

Para nelayan percaya bahwa jala buatan tangan sendiri memiliki kualitas yang lebih baik karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka, termasuk ukuran mata jaring dan panjang bentangan.

Jala buatan pabrik kadang tidak sesuai dengan kondisi sungai kita. Kalau buat sendiri, bisa disesuaikan dengan arus dan jenis ikan,” kata Nurmi, salah satu nelayan perempuan yang ikut mempertahankan tradisi merajut.

Tantangan Nelayan Tradisional

Meski tradisi merajut jala masih hidup, para nelayan mengakui adanya tantangan yang semakin berat, mulai dari harga bahan jala yang naik hingga perubahan musim yang memengaruhi hasil tangkapan. Mereka berharap pemerintah daerah dapat memberikan pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas nelayan.

Ketua Kelompok Nelayan Setempat, Arman, menyampaikan bahwa banyak generasi muda mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi.
Anak-anak muda sekarang banyak yang memilih kerja di kota. Padahal, kalau dikelola dengan benar, perikanan tradisional ini masih bisa jadi mata pencaharian yang bagus,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Malinau melalui Dinas Perikanan menyatakan komitmennya untuk menjaga tradisi nelayan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. Program bantuan peralatan, pelatihan diversifikasi usaha, hingga pembinaan kelompok nelayan terus digencarkan.

Keterampilan merajut jala adalah budaya yang harus dilestarikan. Kami juga mendorong nilai ekonominya dengan memberi pelatihan agar nelayan bisa memproduksi jala yang punya nilai jual,” ujar Kepala Dinas Perikanan Malinau, Yulianus.

Penutup

Tradisi merajut jala di Malinau bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi cerminan ketahanan budaya dan ketekunan masyarakat pesisir sungai. Di tengah perkembangan teknologi, kepiawaian nelayan tradisional ini tetap menjadi kebanggaan dan kekuatan ekonomi lokal.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.